Curhatan Pedagang Sukabumi Warungnya Ditutup Petugas Saat PPKM Darurat

  • Whatsapp
Img : Istimewa
banner 468x60
102Dibaca

Sukabumi – Radar Investigasi | Tangan kanannya mengangkat sebuah stereofoam bertuliskan kritikan terkait kebijakan PPKM Darurat, sementara tangan kirinya menggapai-gapai jalan menarik perhatian pengendara di ruas Jalan Sukabumi-Bogor atau tepatnya di Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

Lengkap dengan masker, jaket hitam, celana jeans dan sepatu, pria bernama Muhammad Rifandi itu ingin menyuarakan keluh kesahnya seputar kesulitan mencari nafkah di tengah pemberlakuan PPKM Darurat.

Pria yang akrab disapa Rifandey itu adalah salah satu tulang punggung keluarganya. Ibundanya Ade Yayat Suryati (53) sudah setahun ini sakit-sakitan, sementara ayahnya Sulaeman Pedro (63) berstatus guru honorer berpenghasilan rendah.

“Saya jualan es jelly untung enggak seberapa, saya sudah pernah ditutup tiga kali. Gimana caranya mau dagang tenang, saya cuma mau dagang tenang. Enggak harus dibubarkan enggak harus didenda,” katanya, Minggu (18/7/2021).

Rifandey menyeka keringat. Aksi yang ia lakukan memang sengaja menarik perhatian banyak orang dengan nasibnya kini. Menurutnya aturan pemerintah soal PPKM Darurat merugikan usaha kecilnya.

“Ibu saya sakit sudah setahun terakhir ini terbaring di rumah, sakit jantung, lambung dan nafasnya sesak. Boro-boro buat berobat, untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah sulit. Ditambah ada kebijakan hari ini dimana usaha kami pedagang kecil harus tutup,” ujarnya.

“Silahkan aturan tegakan, tapi solusinya buat kami apa? Kami dibubarkan kami didenda, tolonglah pak kami capek enggak ada uang bagaimana saya bisa bantu kebutuhan ibu saya yang sakit,” ucap dia.

Rifandey sudah dua kali turun aksi. Ia mengaku puas dengan aksinya itu. Ia ingin menumpahkan kepiluan hatinya melalui isi tulisan dalam papan stereofoam yang ia pegang.

‘PPKM Darurat? Ibuku Sakit Lebih Darurat, saya harus dagang pak, bu’ tulis Rifandey. Sementara di sisi lainnya bertuliskan ‘Disiksa oleh peraturan’.

“Setidaknya saya bisa menyampaikan suara saya, kalau (pemerintah) tidak bisa bantu setidaknya jangan bikin susah kami. Pemerintah kalau mau buat aturan berpihak juga ke kami yang kecil tolonglah saya merasa sakit hati dan ini tidak adil untuk rakyat kecil untuk pedagang kecil seperti saya,” ujarnya.

Rifandet berjualan Es Jelly di lapak yang ia sewa Rp 400 ribu sebulan dan lokasinya tak jauh dari tempat tinggalnya di Desa Mekarsari, Kecamatan Cicurug. Selama memasuki PPKM pengahsilan yang ia dapatkan turun drastis, dari Rp 120 ribu sehari, saat ini ia hanya bisa mendapatkan Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu per harinya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *