Yuk Simak, Ini Sejumlah Keunikan Rumah Adat Using Banyuwangi

  • Whatsapp
Img : Rumah adat Using di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jatim, dengan menggunakan gebyok di bagian depan. /Istimewah
banner 468x60
923Dibaca

Banyuwangi – Tribun Now | Banyuwangi merupakan kabupaten terbesar yang berada di Pulau Jawa, tepatnya di Provinsi Jawa Timur. Kabupaten Banyuwangi dihuni oleh berbagai suku dan etnis karena pada masa kolonialisme Belanda, mereka mendatangkan orang asing serta suku lain untuk bekerja di perkebunan Banyuwangi.

Dilansir dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, pewaris kultural Blambangan masa lalu dan pembentuk identias Banyuwangi yang sekarang adalah Suku Using. Suku Using adalah penduduk asli Banyuwangi yang bukan orang Jawa maupun orang Bali sebelum Belanda mendatangkan pekerja dari luar Banyuwangi.

Suku Osing atau Using Banyuwangi layaknya suku-suku lainnya, memiliki warisan budaya dan keunikannya sendiri.

Salah satu warisan aksitektur Suku Using Banyuwangi adalah Rumah Adat Using. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Rumah adat Suku Using Rumah Adat Using adalah rumah yang terbuat dari kayu dan bambu.

Kayu yang digunakan biasanya adalah kayu bendo dan kayu cempaka yang kuat serta mudah ditemukan di Banyuwangi. Rachmaniah M. Hariastuti dalam jurnal berjudul Kajian Konsep-Konsep Geometris Dalam Rumah Adat Using Banyuwangi Sebagai Dasar Pengembangan Pembelajaran Konstekstual Berbasis Etnomatematika, menyebutkan bahwa rumah adat Using berupa susunan 4 tiang kayu dengan sistem tanding tanpa paku, tetapi menggunakan paju atau pasak pipih.

Keunikan rumah adat Using adalah arah menghadapnya rumah ditentukan oleh hari kematiam orang tua. Jika orangtua meninggal pada hari Senin, maka rumah akan menghadap ke barat. Jika meninggal pada hari Selasa, maka rumah harus menghadap ke timur. Jika meninggal pada hari Rabu, maka rumah harus menghadap ke selatan.

Jika meninggal pada hari Kamis, maka rumah harus menghadap ke utara. Dan jika meninggal pada hari Minggu, rumah harus menghadap ke barat. Aturan adat tersebut membuat pola perumahan Rumah Using tidak beraturan. Bagian depan rumah Using tidak selalu menghadap ke jalan seperti pada rumah-rumah pada umumnya.

Kayu pembentuk rumah Using diukir dengan srengge, bunga pare, selimpet, dan juga kawung yang masing-masing memiliki makna filosofis. Motif srengge atau matahari melambangkan harapan akan masa depan rumah tangga yang cerah, bunga pare melambangkan kehidupan rumah tangga yang berlangsung lama dan terus menjalar, kawung melambangkan kesetiaan pada pasangan, dan selimpet (garis-garis) melambangkan kasih sayang yang tidak terbatas.

Menurut bentuk atapnya, Rumah Adat Using dibedakan menjadi tiga yaitu cerocogan, tikel balung, dan baresan.

Cerocogan adalah rumah Using dengan satu atap saja dan dihuni oleh satu keluarga dengan ekonomi rendah.

Rumah Using baresan dihuni oleh keluarga dengan ekonomi menengah. Sedangkan rumah Using tikel balung terdiri dari empat buah sisi atap sehingga memiliki ruang tambahan di kanan dan kiri rumah. Rumah tikel balung biasanya dihuni oleh keluarga kaya dan terpandang.

Sumber Belajar Kemendikbud

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *